Profil Desa
LEGENDA DAN SEJARAH DESA
LEGENDA
DESA
Rupa Bumi Desa Ketitangkidul Masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Dalam
tatanan agama Hindu dan Budha masyarakatnya terbagi beberapa Kasta antara lain:
Kasta Brahmana adalah kastanya para pendeta dan
pendidik.Kasta Kesatria adalah kastanya para raja dan
panglima.Kasta Waisya adalah kastanya para saudagar dan
tukang-tukang.Kasta Sudra adalah kastanya para kuli dan para
hamba.
Pada tahun 1010 – 1020 M. Mbah Tawan dan Nini Tawan
menuju ke suatu tempat dan babat secara sembunyi sebab konon katanya beliau
berdua masih keturunan dari Raja Kalang Joyo. Mbah Tawan dan Nini Tawan
melakukan penyamaran masuk dalam kasta sudra dan bergabung dengan para kuli dan
orang-orang kecil agar tidak diketahui para punggawa kerajaan, sampai Majapahit
runtuh dan jatuh ke tangan Prabu Girindra Wardana. Hingga dirinya meninggal
tahun 1950. Orang-orang di lingkungan makam Mbah Tawan hingga sekarang masih
melaksanakan kegiatan ritual diantaranya nyadran, entas-entas dan gubreg setiap
tahun di Candi mbah Tawan.
SEJARAH DESA
Brawijaya VI tahun 1478 – 1498
M
Pada tahun 1475 M Raden Fatah melaksanakan perintah
dari gurunya Sunan Ampel untuk membuka pondok pesantren di desa Glagak Wangi
Demak dengan nama Bintoro Demak dan didukung oleh para wali.
Dari sekian para
wali yang tidak dikenal diantaranya adalah :
Sunan PrawotoSunan NgudagSunan GesengSunan Mojo AgungSyeh SubakirSyeh Abdurrahman (mbah Menthik)Salah satu dari wali tersebut (Syeh Abdurrahman/Mbah
Menthik) menuju ke suatu tempat untuk mendirikan padepokan yang mengajarkan
ilmu agama Islam hingga dirinya wafat dan dimakamkan di sebelah pohon Nogosari
dan kayu Mojol. Tempat tersebut sampai sekarang dinamai Dukuh Depok.
Sekitar tahun 1630 M terjadi peperangan antara
Senopati Mataram dengan bajak laut Wanteg. Dalam peperangan tersebut konon
senjata/tumbak milik senopati Mataram patah. Namun demikian peperangan tersebut
dapat dimenangkan oleh senopati Mataram. Yang kemudian bajak laut melarikan
diri ke arah selatan. Setelah perang usai banyak ditemui bangkai manusia
(bathang makethi kethi) dari kedua belah pihak. Akhirnya tempat tersebut oleh
Senopati dinamai Ketitang sambil memperbaiki tombak Mpu Ganjar yang patah.
Tokoh-tokoh berikutnya yang dipercaya memangku
pemerintahan desa Ketitangkidul antara lain
H. Adnan ( Kepala
Desa sebelum Pemerintahan Belanda )Kasdar ( Kepala Desa Masa Pemerintahan Belanda
)Sukarno ( Kepala Desa Masa Kemerdekaan )Mi’un ( Kepala Desa Orde Lama S/d Orde Baru )Abd. Rozaq ( Kepala Desa Orde Baru )Kastono ( Kepala Desa Orde Baru )Iman Purnomo Sidik ( Kepala Desa Masa Orde
Baru dan Reformasi )Chaer Chamdi ( Kepala Desa Era Reformasi )Umar Santoso ( Kepala Desa Pasca Reformasi )
KONDISI
UMUM DESA.
GEOGRAFIS.
Secara
Geografis dan secara administratif Desa Ketitangkidul merupakan salah satu dari
22 Desa di Kecamatan Bojong dan 272 Desa di Kabupaten Pekalongan, yang memiliki
luas wilayah ± 79 Ha ( Tujuh
puluh sembilan Hektar ) secara topografis terletak pada ketinggian 50 meter
diatas permukaan laut.
Posisi
Desa Ketitangkidul yang terletak pada bagian tengah Kabupaten Pekalongan
berbatasan langsung dengan sebelah utara Desa Ketitanglor Kecamatan Bojong,
sebelah timur Desa Menjangan Kecamatan Bojong & Desa Sampih Kecamatan
Wonopringgo, sebelah selatan Desa Duwet Kecamatan Bojong dan sebelah barat Desa
Bojongwetan Kecamatan Bojong.
Lahan di Desa sebagian besar
merupakan tanah kering 55% (lima puluh lima perseratus) dan tanah sawah 45% ( empat
puluh lima perseratus).
LEGENDA
DESA
Rupa Bumi Desa Ketitangkidul Masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Dalam
tatanan agama Hindu dan Budha masyarakatnya terbagi beberapa Kasta antara lain:
Kasta Brahmana adalah kastanya para pendeta dan
pendidik.Kasta Kesatria adalah kastanya para raja dan
panglima.Kasta Waisya adalah kastanya para saudagar dan
tukang-tukang.Kasta Sudra adalah kastanya para kuli dan para
hamba.
Pada tahun 1010 – 1020 M. Mbah Tawan dan Nini Tawan
menuju ke suatu tempat dan babat secara sembunyi sebab konon katanya beliau
berdua masih keturunan dari Raja Kalang Joyo. Mbah Tawan dan Nini Tawan
melakukan penyamaran masuk dalam kasta sudra dan bergabung dengan para kuli dan
orang-orang kecil agar tidak diketahui para punggawa kerajaan, sampai Majapahit
runtuh dan jatuh ke tangan Prabu Girindra Wardana. Hingga dirinya meninggal
tahun 1950. Orang-orang di lingkungan makam Mbah Tawan hingga sekarang masih
melaksanakan kegiatan ritual diantaranya nyadran, entas-entas dan gubreg setiap
tahun di Candi mbah Tawan.
SEJARAH DESA
Brawijaya VI tahun 1478 – 1498
M
Pada tahun 1475 M Raden Fatah melaksanakan perintah
dari gurunya Sunan Ampel untuk membuka pondok pesantren di desa Glagak Wangi
Demak dengan nama Bintoro Demak dan didukung oleh para wali.
Dari sekian para
wali yang tidak dikenal diantaranya adalah :
Sunan PrawotoSunan NgudagSunan GesengSunan Mojo AgungSyeh SubakirSyeh Abdurrahman (mbah Menthik)Salah satu dari wali tersebut (Syeh Abdurrahman/Mbah
Menthik) menuju ke suatu tempat untuk mendirikan padepokan yang mengajarkan
ilmu agama Islam hingga dirinya wafat dan dimakamkan di sebelah pohon Nogosari
dan kayu Mojol. Tempat tersebut sampai sekarang dinamai Dukuh Depok.
Sekitar tahun 1630 M terjadi peperangan antara
Senopati Mataram dengan bajak laut Wanteg. Dalam peperangan tersebut konon
senjata/tumbak milik senopati Mataram patah. Namun demikian peperangan tersebut
dapat dimenangkan oleh senopati Mataram. Yang kemudian bajak laut melarikan
diri ke arah selatan. Setelah perang usai banyak ditemui bangkai manusia
(bathang makethi kethi) dari kedua belah pihak. Akhirnya tempat tersebut oleh
Senopati dinamai Ketitang sambil memperbaiki tombak Mpu Ganjar yang patah.
Tokoh-tokoh berikutnya yang dipercaya memangku
pemerintahan desa Ketitangkidul antara lain
H. Adnan ( Kepala
Desa sebelum Pemerintahan Belanda )Kasdar ( Kepala Desa Masa Pemerintahan Belanda
)Sukarno ( Kepala Desa Masa Kemerdekaan )Mi’un ( Kepala Desa Orde Lama S/d Orde Baru )Abd. Rozaq ( Kepala Desa Orde Baru )Kastono ( Kepala Desa Orde Baru )Iman Purnomo Sidik ( Kepala Desa Masa Orde
Baru dan Reformasi )Chaer Chamdi ( Kepala Desa Era Reformasi )Umar Santoso ( Kepala Desa Pasca Reformasi )
KONDISI
UMUM DESA.
GEOGRAFIS.
Secara
Geografis dan secara administratif Desa Ketitangkidul merupakan salah satu dari
22 Desa di Kecamatan Bojong dan 272 Desa di Kabupaten Pekalongan, yang memiliki
luas wilayah ± 79 Ha ( Tujuh
puluh sembilan Hektar ) secara topografis terletak pada ketinggian 50 meter
diatas permukaan laut.
Posisi
Desa Ketitangkidul yang terletak pada bagian tengah Kabupaten Pekalongan
berbatasan langsung dengan sebelah utara Desa Ketitanglor Kecamatan Bojong,
sebelah timur Desa Menjangan Kecamatan Bojong & Desa Sampih Kecamatan
Wonopringgo, sebelah selatan Desa Duwet Kecamatan Bojong dan sebelah barat Desa
Bojongwetan Kecamatan Bojong.
Lahan di Desa sebagian besar
merupakan tanah kering 55% (lima puluh lima perseratus) dan tanah sawah 45% ( empat
puluh lima perseratus).
“BERSAMA WARGA MEMBANGUN DESA, MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN
DESA YANG BAIK DAN TRANSPARAN, MENUJU MASYARAKAT YANG AMAN, TENTERAM, MAJU,
ADIL, DAN BERMARTABAT.”
DESA YANG BAIK DAN TRANSPARAN, MENUJU MASYARAKAT YANG AMAN, TENTERAM, MAJU,
ADIL, DAN BERMARTABAT.”
1.Mengakomodir dan melaksanakan program-program yang baik dan benar sesuai dengan peraturan – peraturan, petunjuk dan arahan atasan serta instansi terkait. Program-program yang baik dan benar sebagaimana tercantum dalam RPJMDes dan APBDes akan diteruskan dengan mempertimbangkan pertanggungjawaban administrasi dan keuangan.
2.Memberdayakan dan meningkatkan potensi yang ada didesa dengan cara :
3.SDM aparatur pemerintah desa dan lembaga-lembaga yang ada di desa mulai pelatihan dan pendidikan.
4.Sumber daya alam desa
5.Ekonomi kerakyatan melalui kegiatan koperasi
6.Kegiatan sosial keagaman di desa
7.Menciptakan suasana desa yang aman, tenteram, tertib, maju, adil, dan bermartabat, dalam kehidupan bermasyarakat dengan mengedankan jiwa gotong royong dan kepedulian, dengan berpegang pada prinsip :
8.duduk sama rendah berdiri sama tinggi
9.ringan sama jinjing berat sama dipikul
10.sepi ing pamrih, rame ing gawe, narimo ing pandum
11.Optimalisasi pelaksanaan dan pelayanan pemerintah desa, yang meliputi
12.pemerintah dilakukan dengan mengedepankan prinsip musyawarah dilaksanakan secara transparan dan bertanggung jawab
13.pemerintah desa yang prima yaitu cepat, tepat dan benar
14.Pelaksanaan pembangunan secara berkesinambungan sesuai dengan aspirasi dan usulan masyarakat yang telah disepakati dalam RAPBDES dan musrenbangdes
15.Maju mundurnya desa tidak lepas dari kerja keras dan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu pemerintah desa tidak akan alergi terhadap kritikan dan masukan yang bersifat membangun untuk kemajuan desa
16.Memfasilitasi dan mengusahakan adaya fasilitas-fasilitas publik, sosial keagamaan, sarana prasarana kegiatan remaja dan anak yang dibutuhkan, dengan mempertimbangkan kemampuan APBDes dan keuangan desa
17.Melestarikan budaya dan kearifan lokal serta meningkatkan kegiatan keagamaan islam dan keagamaan- keagamaan lain yang mendidik bagi pemuda, anak-anak, dan masyarakat.